Mengingat Sejarah Desa Sedayu tidak lepas dari sejarah seorang tokoh yaitu (Ki wirodegleng). Beliau adalah bibit kawit Desa Sedayu yang telah babat alas (hutan), yang semula desa ini adalah hutan belantara karena jasa beliaulah terwujud menjadi sebuah kampung baru. Dengan kesabaran beliau berjuang, dengan hati yang tulus dan bekerja menebang hutan setapak demi setapak akhirnya jadilah sebuah kampung.
Kampung baru ini semula tak bernama, lambat laun suatu ketika (Ki wirodegleng) melihat banyak pohon sirih (Bahasa Jawa : Sedah) yang tumbuh dimana-mana dan tampak hijau ranum ibarat orang permpuan tampak cantik ( Bahasa Jawa : Ayu ) diberilah nama kampung tersebut Sedayu dari kata Sedah – Ayu.
Kampung Sedayu lambat laun menjadi ramai dan dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah yaitu ;
- Krajan yang pada waktu itu dipimpin oleh seorang petinggi bernama Sodowijoyo.
- Watusong yang di pimpin seorang petinggi bernama Poncowijoyo.
- Sandi yang pada waktu itu di pimpin oleh seorang petinggi Suro Kerti
Pada tahun 1921 Tiga kampung ini, yaitu Krajan, Watusong, dan Sandi di gabung menjadi satu dengan satu petinggi (sebutan sekarang Kades). Desa Sedayu merupakan gabungan dari tiga kampung tersebut pada waktu itu di pimpin oleh Lurah Surotruno sampai tahun 1948, selanjutnya tahun 1948 sampai dengan 1972 di ganti oleh Lurah Partosentono, pada tahun 1972 sampai dengan 1975 di ganti oleh Pjs bernama Suwardi ( Kami Tuwo Krajan ), selanjutnya pada tahun 1975 sampai dengan 1982 diganti oleh Karteker Jayadi Anggota Polsek Grobogan, selanjutnya pada tahun 1982 sampai dengan 1986 dijabat oleh Kepala Desa Difinitif yang bernama Kahono ( meninggal dunia tahun 1986 karena sakit ), tahun 1986 sampai dengan 1988 dijabat oleh PJs Sastrowasito, pada tahun 1988 sampai dengan 1998 dijabat oleh Kepala Desa difinitif bernama S. Purhadi, selanjutnya tahun 1998 sampai dengan 2006 diganti oleh Kepala Desa bernama Supariyo, selanjutnya tahun 2007 sampai dengan sekarang dijabat oleh Kepala Desa bernama Sariyun AP.
- Pada jaman dahulu sampai sekarang masyarakat masih melaksanakan tradisi yaitu khajatsesi (merupakan semacam sedekah dihari – hari penting dalam peninggalan Islam).
- Setiap menjelang puasa Rhomadhon masyarakat selalu melaksanakan resik kubur (membersihkan kubur dari kotoran-kotoran).
"KC hadir pak lurah